Orang yang jarang beribadah memang bisa membuat Para Pelayan /majelis merasa kecewa: “Waktu hidup tidak pernah datang, tidak terlibat dalam pelayanan, tetapi ketika meninggal mengapa gereja harus repot?”
Perasaan seperti itu manusiawi. Tetapi secara gerejawi, kematian justru menguji apakah gereja melayani karena kasih atau karena seseorang dianggap layak.
Ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi:
Majelis merasa pelayanan harus dibalas dengan keaktifan.
Orang yang rajin dianggap “layak” mendapat perhatian, sedangkan yang jarang hadir dianggap tidak punya hubungan dengan gereja.
Ada rasa kecewa yang belum selesai.
Kadang bukan karena tidak mau melayani jenazah, tetapi karena selama hidup sudah ada konflik, kekecewaan, atau sikap tidak peduli.
Gereja tanpa sadar membuat ukuran “orang baik” dan “orang tidak baik”.
Padahal gereja bukan tempat hanya untuk orang yang sudah baik. Gereja justru hadir karena manusia membutuhkan kasih dan pertolongan Allah.
Kita lupa bahwa pelayanan kepada orang yang meninggal bukan penghargaan atas prestasinya.
Pelayanan pemakaman bukan berarti gereja menyatakan, “Orang ini selama hidupnya benar.”
Pelayanan pemakaman adalah kesaksian gereja bahwa kematian tetap berada di hadapan Allah dan keluarga yang berduka tetap membutuhkan penghiburan.
Jika engkau melayani mereka yg berbuat baik kepada mu apakah jasa mu??
Pdt. V. Th. Furima.
Komentar
Posting Komentar