Pastoral Kalian Tidak Menyentuh, Tidak ada Roh Kudus Dalam Gereja Kalian, Kalian Tidak benar-benar Pelayanan: (MENURUT ANGGOTA dan GEMBALA ORGANISASI HIPER PENGINJILAN ).

KETIKA PENGINJILAN MENJADI PEREBUTAN OLEH MEREKA YANG HIPER PENGINJILAN
Dari Persekutuan Rumah kepada Kedewasaan Gereja
Oleh Pdt. Victoria Th Furima, S.Th., M.Si.
Foto: Pdt. Victoria Th Furima

Pengantar
Saya seorang pendeta Protestan dalam tradisi Presbiterial. Karena itu saya melihat gereja bukan hanya sebagai tempat orang berkumpul pada hari Minggu, tetapi sebagai tubuh Kristus yang memiliki kehidupan jemaat, gembala, penatua/majelis, tanggung jawab pastoral, tata gereja, dan kehidupan persekutuan yang teratur.
Karena itu saya merasa perlu mengangkat satu persoalan yang semakin penting: kapan penginjilan masih merupakan pelayanan kepada manusia, dan kapan penginjilan berubah menjadi perekrutan anggota dari gereja lain?
Pertanyaan ini tidak ditujukan hanya kepada satu denominasi. Baptis, Advent, Karismatik, Presbiterial, dan berbagai tradisi gereja lainnya perlu bercermin terhadap pertanyaan yang sama. Sebab persoalannya bukan siapa yang paling benar. Persoalannya adalah: apakah yang kita lakukan sungguh-sungguh memperluas Kerajaan Allah, atau justru memperluas organisasi kita sendiri?
1. Suara Mereka yang Aktif dalam Penginjilan
Mereka tentu mempunyai alasan. Mereka mungkin berkata: “Kami bukan merebut jemaat. Kami melayani mereka yang tidak menemukan Roh Kudus di gereja kalian.” Mereka berkata: “Kami datang mengunjungi mereka. Kami mendoakan mereka. Kami mengajak mereka beribadah. Kami hadir ketika mereka sedang mengalami masalah. Kami tidak hanya menunggu mereka datang setiap hari Minggu.”
Dan mereka melanjutkan: “Apa salahnya kami datang kepada mereka? Bukankah Yesus sendiri mencari yang hilang?” “Daripada gereja hanya menunggu jemaat datang sendiri ke gedung gereja setiap hari Minggu, kami memilih keluar menjumpai mereka.”
Secara pastoral, argumentasi ini tidak boleh langsung ditolak. Memang gereja tidak boleh menjadi gereja yang hanya membuka pintu pada hari Minggu lalu menunggu orang datang. Gereja harus hadir, mengunjungi, mendoakan, mendengar keluhan, mendampingi orang sakit, memperhatikan keluarga yang mengalami masalah, dan mencari mereka yang menjauh. Dalam hal ini, kritik terhadap gereja yang pasif perlu didengar.
2. Tetapi Ada Pertanyaan yang Harus Dikembalikan
Kalau mereka berkata, “Kami melayani karena gereja kalian tidak melayani,” maka gereja harus berani bertanya: “Apakah setelah menemukan seseorang yang sudah menjadi anggota gereja tertentu, tugas Anda adalah menguatkan dia supaya kembali kepada Kristus dan gerejanya, atau mengajak dia menjadi anggota kelompok Anda?”
Ini pertanyaan yang berbeda. Kalau seseorang sakit lalu kita datang mengunjungi, itu pelayanan. Kalau seseorang kesepian lalu kita datang mendoakan, itu pelayanan. Kalau keluarga sedang mengalami krisis lalu kita mendampingi, itu pelayanan.
Tetapi kalau setelah semua itu kita mengatakan, “Karena gerejamu tidak memperhatikanmu, sekarang ikutlah dengan kami,” maka persoalannya mulai berubah. Di situlah garis antara pelayanan pastoral dan perekrutan jemaat menjadi kabur.
3. “Kami Tidak Menunggu Mereka Datang”
Kalimat ini juga perlu kita dengarkan. Memang gereja tidak boleh hanya berkata, “Hari Minggu datanglah ke gereja.” Sebab gereja adalah gereja yang keluar.
Namun ada perbedaan antara keluar mencari orang yang jauh dari Tuhan dengan keluar mencari orang yang sudah menjadi anggota gereja lain. Keduanya tidak boleh disamakan.
Kalau seseorang tidak pernah beribadah, tidak mengenal Kristus, dan tidak mempunyai komunitas iman, lalu kita datang kepadanya, mengunjungi, mendoakan, dan mengajaknya mengenal Kristus, itu adalah misi.
Tetapi kalau orang tersebut sudah mempunyai gereja, pendeta, majelis, komunitas, sejarah iman, baptisan, dan pengakuan iman, maka kita harus mempunyai kepekaan pastoral dan etika ekumenis. Jangan setiap orang yang kita temui dianggap sebagai “ladang kosong.”
4. “Mereka Tidak Menemukan Roh Kudus di Gerejamu”
Ini adalah pernyataan yang paling serius. Karena siapa manusia yang dapat dengan mudah mengatakan: “Di gerejamu tidak ada Roh Kudus?”
Roh Kudus bukan milik denominasi tertentu. Roh Kudus bukan milik kelompok rumah. Roh Kudus bukan milik pendeta tertentu. Roh Kudus bukan milik gereja yang paling ekspresif dalam ibadah.
Roh Kudus juga tidak dapat diukur hanya dari banyaknya orang menangis, banyaknya orang berbahasa roh, banyaknya orang yang datang, banyaknya kunjungan, banyaknya persekutuan rumah, atau banyaknya kesaksian.
Roh Kudus juga bekerja melalui kesetiaan, kasih, pengampunan, pelayanan, kesabaran, kebenaran, keadilan, kerendahan hati, dan pertumbuhan karakter.
Karena itu kita harus berhati-hati menggunakan kalimat “Di gereja kalian tidak ada Roh Kudus.” Sebab pernyataan itu dapat berubah dari kesaksian iman menjadi klaim superioritas rohani.
5. “Kami Tidak Memaksa. Iman Harus Dewasa.”
Ini juga argumentasi yang sering muncul. Mereka mengatakan, “Kami tidak memaksa siapa pun. Kami hanya mengajak. Iman harus lahir dari kesadaran sendiri. Orang dewasa dalam iman tidak perlu dipaksa dijemput untuk datang beribadah.”
Di sini kita harus mengakui ada kebenarannya. Gereja memang tidak boleh membangun iman melalui paksaan. Orang Kristen bukan anak kecil yang harus terus-menerus diseret ke gereja. Kedewasaan iman memang menuntut kesadaran.
Tetapi kedewasaan iman juga tidak berarti, “Kalau dia tidak datang, biarkan saja.” Sebab pastoral bukan hanya persoalan menunggu. Pastoral juga bukan hanya persoalan memaksa. Pastoral adalah menemani manusia bertumbuh.
6. Di Sinilah Gereja Presbiterial Perlu Bercermin
Kritik terhadap gereja yang hanya menunggu jemaat datang adalah kritik yang perlu diterima. Kalau seorang anggota sudah berbulan-bulan tidak beribadah, jangan hanya berkata: “Dia sudah dewasa, terserah dia.”
Majelis perlu bertanya: mengapa dia tidak datang? Apakah karena sakit, masalah keluarga, kecewa, ekonomi, konflik, merasa tidak diterima, merasa tidak diperhatikan, kehilangan pekerjaan, atau mengalami persoalan iman?
Kalau gereja tidak pernah mencari tahu, jangan heran kalau kelompok lain datang lebih dahulu.
Jadi persoalannya bukan: “Haruskah jemaat dijemput?” Jawabannya: tidak setiap orang harus dijemput seperti anak kecil. Tetapi setiap orang harus diperhatikan sebagai manusia dan anggota tubuh Kristus.
7. Jangan Menggunakan Kelemahan Gereja sebagai Pintu Masuk untuk Memindahkan Jemaat
Ini bagian yang paling sensitif. Misalnya seseorang berkata: “Gereja saya tidak pernah mengunjungi saya.” Kelompok lain datang. Mereka mendoakan. Mereka mengunjungi. Mereka mendengar masalahnya. Lalu orang tersebut merasa: “Di sini saya lebih diperhatikan.” Ini sangat manusiawi.
Tetapi gereja baru harus bertanya: “Apakah kami harus mengambil orang ini, atau membantu dia mendapatkan kembali kehidupan imannya?” Inilah ukuran kedewasaan pelayanan.
Sebab pelayanan yang sehat tidak selalu berkata: “Ikut kami.” Kadang pelayanan yang sehat berkata: “Mari kami bantu supaya hubunganmu dengan Tuhan dan gerejamu dipulihkan.” Itu jauh lebih sulit, karena kita tidak mendapatkan anggota baru. Tetapi kita mungkin mendapatkan manusia yang dipulihkan.
8. Persekutuan Rumah: Sarana Pelayanan atau Pusat Kekuasaan Baru?
Persekutuan rumah sebenarnya sangat baik. Tetapi kita harus waspada ketika sebuah kelompok rumah mulai mempunyai pemimpin sendiri, pengajaran sendiri, identitas sendiri, pengumpulan dana sendiri, agenda sendiri, anggota sendiri, dan akhirnya loyalitas yang lebih kuat kepada kelompok daripada kepada kehidupan gereja.
Di titik itu, kita perlu bertanya: “Apakah kelompok ini sedang menjadi sel gereja, atau sedang menjadi gereja baru?”
Kalau setiap persekutuan rumah akhirnya menjadi pusat baru yang menarik anggota dari gereja lain, kita harus jujur: kita bukan sedang mengatasi fragmentasi kekristenan. Kita sedang memperbanyak fragmentasi itu.
9. Jangan Mengukur Roh Kudus dari Banyaknya Orang yang Pindah
Kalau sebuah kelompok berkata: “Banyak orang datang kepada kami, berarti Roh Kudus bekerja,” kita harus berhati-hati. Pertumbuhan jumlah bukan satu-satunya ukuran pekerjaan Roh Kudus.
Sebaliknya, gereja Presbiterial juga tidak boleh berkata: “Kami mempunyai struktur dan tata gereja, berarti kami pasti benar.” Tidak. Struktur bukan bukti otomatis bahwa Roh Kudus bekerja. Jumlah anggota juga bukan bukti otomatis bahwa Roh Kudus bekerja. Gairah ibadah juga bukan bukti otomatis bahwa Roh Kudus bekerja.
Ukuran yang lebih dalam adalah: apakah kehidupan manusia menghasilkan kasih, kebenaran, kesetiaan, pelayanan, pengampunan, keadilan, dan kedewasaan iman?
10. Jangan Terlalu Hiper dalam Penginjilan
Indonesia sudah mempunyai banyak gereja. Banyak orang sudah mengenal nama Yesus. Banyak keluarga sudah dibaptis. Banyak anak sudah mengikuti sekolah Minggu. Banyak orang sudah mengikuti katekisasi. Banyak orang sudah mempunyai gereja.
Karena itu, mungkin tantangan kita bukan selalu: “Bagaimana membuat mereka pindah kepada kita?” Tetapi: “Bagaimana membuat kekristenan mereka menjadi nyata dalam kehidupan?”
Kita membutuhkan penginjilan kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Tetapi kita juga membutuhkan pemuridan terhadap mereka yang sudah mengenal Kristus. Kita membutuhkan pertobatan, tetapi kita juga membutuhkan kedewasaan. Kita membutuhkan pertambahan anggota, tetapi kita juga membutuhkan pertumbuhan karakter.
11. Belajar dari Kisah Pelayanan di Tempat yang Sulit
Tulisan mengenai Pater Frans di Sabu, terlepas dari perlu atau tidaknya verifikasi terhadap angka dan detail historisnya, memberikan satu pertanyaan penting: apakah energi gereja kita lebih banyak dipakai untuk mencari orang yang sudah menjadi anggota gereja lain, atau untuk hadir di tempat di mana manusia benar-benar membutuhkan pertolongan?
Bayangkan kalau energi yang digunakan untuk membuka banyak kelompok baru dipakai untuk menyekolahkan anak miskin, menyediakan air bersih, membantu keluarga yang kehilangan pekerjaan, mendampingi korban kekerasan, membantu petani, mendampingi pemuda yang tidak mempunyai pekerjaan, mengunjungi orang sakit, memperhatikan lansia, dan membangun ekonomi jemaat.
Mungkin di situlah masyarakat akan berkata: “Kami melihat Kristus bukan hanya dalam khotbah kalian, tetapi dalam kehidupan kalian.”
12. Pertanyaan yang Harus Ditanyakan Semua Denominasi
Kepada Baptis, Advent, Karismatik, Presbiterial, dan tradisi gereja lainnya, pertanyaannya sama:
“Apakah kita sedang memenangkan manusia untuk Kristus atau memenangkan manusia untuk organisasi kita?”
“Apakah kita sedang mencari orang yang belum mengenal Tuhan atau mencari orang yang sudah menjadi anggota gereja lain?”
“Apakah persekutuan rumah memperkuat gereja atau menciptakan gereja kecil yang baru?”
“Apakah kita mengunjungi orang untuk memulihkan mereka atau untuk menarik mereka?”
“Apakah kita mengajarkan kedewasaan iman atau menciptakan ketergantungan kepada kelompok kita?”
“Apakah kita sedang menghadirkan Roh Kudus atau menggunakan bahasa ‘Roh Kudus’ untuk membenarkan cara kita sendiri?”
Penutup: Dari Perebutan Anggota kepada Kedewasaan Gereja
Mungkin kita semua harus berhenti sebentar. Baptis perlu bercermin. Advent perlu bercermin. Karismatik perlu bercermin. Presbiterial juga harus bercermin.
Jangan merasa satu denominasi mempunyai monopoli atas Roh Kudus. Jangan merasa metode kita adalah satu-satunya metode yang benar. Jangan merasa gereja yang paling ramai otomatis gereja yang paling rohani.
Dan jangan menjadikan kelemahan gereja lain sebagai kesempatan untuk membangun kebesaran kelompok sendiri.
Gereja yang dewasa bukan gereja yang paling banyak memindahkan anggota. Gereja yang dewasa adalah gereja yang mampu membuat manusia semakin mengenal Kristus, semakin matang dalam iman, semakin bertanggung jawab dalam kehidupan, dan semakin berguna bagi sesamanya.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan. Bukan lagi: “Berapa banyak orang yang berhasil kita tarik?” Tetapi: “Berapa banyak manusia yang benar-benar kita pulihkan?”
Bukan lagi: “Berapa banyak yang pindah ke kelompok kita?” Tetapi: “Berapa banyak yang semakin hidup dalam kasih Kristus?”
Dan bukan lagi: “Siapa yang paling hebat dalam penginjilan?” Tetapi: “Apakah melalui pelayanan kita, Kristus semakin dikenal, bukan organisasi kita yang semakin besar?”
Dari sinilah persekutuan rumah harus bergerak menuju kedewasaan gereja: bukan menjadi mesin perekrutan, melainkan ruang untuk merawat, memuridkan, memulihkan, dan mengutus manusia untuk hidup bagi Kristus dan sesama.
Catatan Redaksional
Tulisan ini merupakan refleksi pastoral dan kritis, bukan serangan terhadap denominasi atau kelompok gereja tertentu. Istilah “hiper penginjilan” digunakan untuk menggambarkan kecenderungan ketika semangat menjangkau manusia dapat bergeser menjadi orientasi pada perekrutan anggota. Contoh dan ilustrasi dalam tulisan perlu dibedakan dari klaim historis atau data faktual yang memerlukan verifikasi sumber.

— Pdt. Victoria Th Furima, S.Th., M.Si. —

Komentar